Rabu, 16 September 2015

TormenT (Cakka Shilla)






Serpihan 1 – Masa lalu itu

Aku tak bisa memilih masa kecilku, tetapi masa depan itu aku yang melukiskannya. Namun, sangat berat membuat itu terwujud. Dan karena itulah aku hanya dapat menangis.

***



Jakarta, 2006

SYUT! Kaki kecil itu mendarat dengan sukses di sebuah tanah becek di halaman belakang rumahnya. Gadis kecil itu menghampiri teman kecilnya yang sudah menjadi tetangga sekaligus sahabatnya semenjak ia masih bayi. Seperti hari-hari sebelumnya, hari ini ia berencana kabur dengan sahabatnya itu lagi.

“Kita mau kemana sih, Cak?” bisik gadis kecil tersebut, takut-takut kalau pengasuh si gadis akan mendengar. Lelaki yang ditanya tak menjawab, tetapi hanya tersenyum sambil memandangi gadis kecil di depannya. Rambutnya yang lurus sebahu hanya dikuncir kuda asal, menyisakan beberapa rambut di dekat telinga. Baju yang dikenakan gadis kecil tersebut hanyalah sebuah baju tidur berwarna pink bergambar kelinci yang biasa digunakannya untuk tidur siang yang dibalut sebuah cardigan berwarna hitam. Sederhana, sangat sederhana, tapi entah mengapa ada hal yang selalu berhasil memikat Cakka dari diri gadis ini.

“Woy, kok bengong sih?” gadis itu melambai-lambaikan tangannya di depan Cakka atau Cicak, nama panggilan ajaib yang diciptakan oleh sang gadis.

Cakka tak kunjung menjawab, ia malah menggaruk-nggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung mau menjawab apa. “Emmm.. Hari ini... kita... kita mau berpetualang.” cetusnya asal.
Hah? Gadis kecil itu belum sempat bertanya lagi karena tangan kecil Cakka tiba-tiba menariknya pergi.

***

Matahari siang ini begitu terik, setetes keringat sebesar biji jagung mengalir di dahi gadis kecil tadi. Mereka berdua baru saja memasuki sebuah gedung yang entah apa namanya, tentunya secara sembunyi-sembunyi karena takut ketahuan oleh satpam yang menjaga gerbang gedung tersebut. Cakka menyeret si gadis memasuki sebuah ruangan yang tak jauh dari pintu masuk. Kemudian mereka berdua bersembunyi di balik kursi panjang yang terletak pojok ruangan. Tempat yang cukup aman untuk bersembunyi.

Mata gadis itu mulai meneliti isi ruangan tersebut. Ruangan itu berisi banyak kursi yang hanya diduduki orang dewasa, di depan ada sebuah meja besar yang dibelakangnya ada beberapa orang memakai jubah yang aneh. Tak ada satupun anak kecil di ruangan tersebut, apalagi yang berusia 10 tahun seperti dirinya.
“Ini tempat apa sih, Cak?” tanya gadis itu dengan suara pelan.

Cakka menoleh, “Tempat ini namanya pengadilan.”

“Pengadilan?” Mata gadis itu juling ke atas, mengingat-ingat apa itu pengadilan.

Cakka menghela nafas pelan. “Mama sama Papa aku mau cerai, Shil.” kata Cakka pelan, terselip nada sedih disetiap perkataannya.

Shilla, gadis itu menoleh. Ia memandang sahabatnya yang kini tengah menunduk. Ia tahu apa itu cerai dari sinetron yang sering dilihat Mamanya tiap malam. Cerai itu berarti Mama dan Papa Cakka harus berpisah. Tak ada lagi ritual memasang dasi tiap pagi sebelum Papanya Cakka akan berangkat kerja.
Shilla menepuk-nepuk puncak kepala Cakka, “Sabar ya...”

Cakka mendongak, ia tersenyum tipis kemudian mengisyaratkan Shilla untuk menoleh ke depan. Betapa kagetnya Shilla melihat siapa wanita yang baru saja memasuki ruangan yang ditempatinya. Ia adalah Mamanya Cakka.

***

Shilla bingung bagaimana cara menghibur orang yang sedang sedih. Setelah pulang dari pengadilan tadi, Cakka hanya murung dan tak banyak bicara. Sedari tadi Cakka hanya memandang bintang dan tak sedikit pun memperhatikan Shilla.

“Lagi curhat sama bintang ya? Ada orang disini loh, Cak. Kasian banget dicuekin.”

Lagi-lagi Cakka hanya tersenyum membalas pertanyaan Shilla. Cakka diam sejenak hingga akhirnya dia buka suara. “Shil, apa pertemuan itu harus diakhiri dengan perpisahan ya?” Matanya masih menatap bintang-bintang. “Kalo kayak gitu, berarti suatu saat aku bisa dong pisah sama kamu. Aku nggak mau pisah sama kamu.”

“Aku juga nggak mau pisah sama Cicak.” Shilla ikut-ikutan memandang bintang.

“Dari dulu, Cakka pengen banget jadi Arsitek handal kayak Papa.”

“Aku tahu kok. Kamu bilang kalo kamu pengen banget kuliah di UGM. Iya kan? Kita kan udah janji mau kuliah bareng.”

Cakka mengangguk. Seketika hatinya terasa sesak. Ia tak berani mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi mengganjal hatinya.

“Aku pulang dulu ya, Shil.” Pamit Cakka sambil beranjak. Shilla hanya mengangguk.

***

    “Shilla... Bangung sayang. Kamu nggak mau pamitan sama Cakka?” ucap Mamanya Shilla sambil menguncang-guncangkan tubuh kecilnya.

    Shilla menguap, “Hoaaam... Emangnya Cicak mau kemana, Ma?” tanyanya dengan kesadaran yang baru lima puluh persen.

    “Cakka kan mau pindah. Ayo cepet mandi.” Kata Mamanya yang sudah beranjak dari kamarnya.

    “Hah? Pindah?” teriaknya histeris. Tanpa pikir panjang ia langsung berlari keluar rumah. Benar kata Mamanya, sahabatnya itu mau pindah. Terbukti dari Papa Cakka yang saat ini sedang memasukkan koper-koper besar ke dalam mobil dibantu oleh Papanya. Shilla celingak-celinguk mencari sosok Cakka.

    “Cakka..” teriaknya setelah menemukan Cakka yang sedang duduk manis di teras rumahnya.

“Shilla..” ucap Cakka kaget.

“Kamu mau pindah? Pindah kemana? Kenapa kamu nggak bilang sama aku sih?” tanya Shilla dengan nada kecewa.

Cakka menunduk, “Maaf, Shil...” sahutnya lirih.

“Kamu nggak sayang ya sama aku?” Tanpa disadari setetes air mata menetes dari mata indah Shilla.“Kenapa kamu harus pergi? Bukannya kamu udah janji mau sama aku terus? Bukannya kamu janji mau kuliah bareng aku kalo udah gede nanti? Kalo... kalo kamu pergi, nanti siapa yang temenin aku main? Aku kan... sa....” Shilla sudah tidak kuat lagi melanjutkan kata-katanya. Dadanya terlalu sesak.

Cakka merengkuh gadis kecil itu lalu menenggelamkan kepala gadis itu di dadanya, “Maaf..” bisiknya lirih. “Aku nggak akan lama kok.” Ucap Cakka mencoba menenangkan sahabatnya. Shilla mendongak, “Berapa lama kamu pergi? Kamu mau pindah kemana?”

“Cakka... Ayo berangkat sekarang...” teriak Papanya dari dalam mobil. Cakka menoleh ke arah Papanya kemudian memandang sahabatnya sebentar. Ia meraih tangan Shilla lalu memasangkan sebuah gelang disana. 

“Jaga gelangnya ya. Aku pasti akan kembali. Bye.” katanya menenangkan sambil mengecup puncak kepala Shilla pelan. Shilla terdiam, ada sebuah perasaan sakit yang menyelimuti hatinya. Kemudian ia sadar bahwa mobil yang ditumpangi Cakka sudah melaju menjauhi darinya. Ia berlari, mencoba mengejar. Namun langkah kecilnya tak dapat mengalahkan cepatnya laju mobil tersebut.

“Cakka... Aku akan menunggu kamu kembali...” teriaknya kencang. Matanya tak lepas dari mobil itu hingga mobil itu menghilang di belokan kompleks rumahnya.

***

Selalu dengan langit yang sama dan selalu dengan hari yang sama. Hanya satu hal yang berbeda, yaitu kau tak di sini.

***

Jakarta – 2014 

    Shilla memegang sebuah gelang sederhana yang terlingkar manis di jarinya. Entah mengapa suasana yang sepi membuatnya mengulang kejadian 8 tahun lalu. Dan menyebalkannya, sekarang ia rindu dengan lelaki itu.

    “Shil? Lagi ngapain?” terdengar suara lelaki yang cukup dikenal Shilla. Ia menoleh dan mendapati Gabriel –teman duetnya- tengah menatapnya dengan ekspresi yang susah untuk dijelaskan.

    Melihat Gabriel menatapnya nyalang, Shilla buru-buru membenahi ekspresinya kemudian tersenyum kepadanya. “Hai, Gab. Ada apa?”

    “Enggak kok. Cuman mampir aja. Sama ada yang mau gue omongin.”

    “Tentang??”

    Gabriel terkekeh pelan, “Konser kita Shilla sayang. Seminggu lagi kita konser. Dan mulai besok kita akan mulai latihan. Lo lupa?”

    Shilla menepuk keningnya pelan. Bagaimana bisa ia lupa dengan acara sekrusial itu. Ya, Shilla adalah seorang penyanyi yang cukup terkenal setelah kemunculannya di dunia entertainer sebagai rekan duet seorang Gabriel Stevent. Seorang penyanyi tampan yang serba bisa yang telah lebih dari 3 tahun berkecimpung di dunia tersebut. Dan kerennya, seminggu lagi mereka berdua akan mengadakan konser pertama mereka di sebuah gedung teater terkenal di Jakarta.

    “Yaudah deh, udah sore juga. Gue pulang dulu ya, Shil.” Pamitnya seraya mencium puncak kepala Shilla.
Gabriel memang dari dulu menyukai Shilla. Tujuannya merekrut Shilla sebagai teman duetnya tak lain dan tak bukan adalah supaya ia bisa lebih dekat dengan gadis tersebut. Namun, usahanya tak pernah berhasil untuk membuat Shilla jatuh hati padanya. Ini semua karena seorang dari masa lalu yang tak kunjung pergi dari hati dan pikiran Shilla. Gabriel membenci lelaki itu...

***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar